Hampir Menyerah Demi Sebuah Foto Bersama Gus Mensos

Inspiratif 16 Sep 2026 09:39 4 min read 29 views By Abdi Khairil
Hampir Menyerah Demi Sebuah Foto Bersama Gus Mensos
“Sebuah foto, sebuah penantian, dan sebuah pelajaran untuk tidak cepat menyerah.”

BONEPAPER.COM — Ada foto yang cukup diambil dalam hitungan detik, tetapi untuk mendapatkannya harus menunggu berjam-jam.

Bukan karena fotonya begitu istimewa.

Melainkan karena orang yang ada di dalam foto itu memiliki arti dari sebuah perjalanan yang sedang kami jalani.

Hari itu, saya hanya punya satu keinginan sederhana: bisa berfoto bersama Gus Mensos.

Saat menunggu pidato penutupan, saya sudah bersiap. Gadget sudah siap di tangan. Dalam bayangan, setelah acara selesai, mungkin ada kesempatan untuk mendekat dan mengabadikan satu momen.

Ternyata tidak semudah itu.

Gus Mensos tidak kunjung muncul di aula.

Belakangan saya mengetahui, beliau keluar melalui pintu lain untuk melaksanakan salat Ashar.

Saya kembali menunggu.

Menit berganti menit.

Namun beliau tak juga terlihat.

Yang membuat harapan semakin kecil, para pengawal beliau pun tidak terlihat di ruangan.

Dalam hati saya mulai mengambil kesimpulan sendiri.

“Mungkin beliau sudah pulang.”

Rasanya kecewa.

Bukan karena tidak mendapatkan sesuatu yang besar. Hanya sebuah foto.

Tetapi justru karena sederhana itulah rasa kecewanya terasa aneh. Kami sudah berada di tempat yang sama, hanya saja kesempatan itu sepertinya lewat begitu saja.

Saya akhirnya keluar dari aula.

Dan ternyata...

harapan itu belum benar-benar pergi.

Di luar, saya melihat Gus Mensos sedang melakukan konferensi pers bersama wartawan.

Saya dan beberapa teman kembali menunggu.

Kami berdiri tidak jauh dari lokasi konferensi pers.

Wawancara berlangsung cukup lama.

Kami tetap bertahan.

Salah seorang teman bahkan sudah mengambil langkah paling sederhana: berswafoto dari kejauhan, dengan Gus Mensos sebagai latar belakang.

Saya melihatnya lalu spontan berkomentar,

“Segitunya demi foto beliau.”

Kami tertawa.

Tetapi sebenarnya kami semua tahu, di balik tawa itu ada keinginan yang sama.

Kami hanya ingin membawa pulang satu kenangan.

Akhirnya konferensi pers selesai.

Kami pun bergegas mencari kesempatan untuk mendekat.

Dalam pikiran saya, setelah selesai berbicara dengan wartawan, beliau pasti akan langsung pergi. Seorang menteri tentu memiliki agenda yang padat.

Saya kembali bersiap menerima kenyataan bahwa mungkin kami tetap tidak akan mendapatkan foto.

Namun, justru pada saat itulah terjadi sesuatu yang tidak saya sangka.

Gus Mensos tidak langsung pergi.

Beliau berhenti.

Dan ketika kami hendak mengabadikan momen, beliau justru mengambil gadget milik teman kami.

Kemudian mengarahkan kamera.

Wefie.

Sesederhana itu.

Kami yang sejak tadi menunggu.

Kami yang hampir menyerah.

Kami yang bahkan sudah puas dengan foto dari kejauhan.

Pada akhirnya justru mendapatkan momen yang lebih baik dari yang kami bayangkan.
Saya terdiam sejenak.

Ternyata seorang menteri yang selama ini kami lihat dari kejauhan bisa begitu sederhana ketika berada di tengah orang-orang yang ingin berfoto bersamanya.

Tidak perlu meminta waktu lama.

Tidak perlu membuat suasana menjadi rumit.

Beliau cukup mengambil gadget dan berkata, secara sederhana, mari berfoto.

Di situlah saya merasa terharu.

Bukan semata-mata karena akhirnya mendapatkan foto.

Tetapi karena ada pelajaran kecil dari sebuah kejadian sederhana.

Kadang-kadang, kita terlalu cepat menganggap sebuah kesempatan telah berakhir.

Kita menyerah hanya karena pintu pertama tertutup.
Padahal, mungkin ada pintu lain yang belum kita temukan.

Hari itu saya hampir menyerah.

Ternyata, setelah keluar dari aula, saya justru menemukan kesempatan yang saya cari.

Dan yang lebih berkesan, kesempatan itu datang dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan.

Foto itu mungkin nantinya hanya menjadi satu dari sekian banyak foto yang memenuhi galeri ponsel.

Tetapi setiap kali melihatnya, saya akan ingat bagaimana foto itu didapatkan.

Ada penantian di sana.

Ada rasa kecewa.

Ada candaan.

Ada teman yang rela mengambil foto dari kejauhan.

Ada harapan yang hampir hilang.

Dan ada seseorang yang, di tengah kesibukannya, memilih untuk berhenti sejenak dan mengambil gadget kami sendiri.

Mungkin bagi beliau, itu hanya beberapa detik.

Tetapi bagi kami, beberapa detik itu menjadi kenangan yang akan jauh lebih lama tersimpan.

Sebab terkadang, yang membuat sebuah foto menjadi berharga bukanlah siapa yang paling terkenal di dalamnya.

Melainkan cerita tentang bagaimana foto itu akhirnya bisa terjadi.

Dan hari itu saya belajar:

Jangan terlalu cepat menyerah hanya karena kesempatan pertama tidak berhasil.

Sebab bisa jadi, setelah kita merasa tidak mungkin, kehidupan justru sedang menyiapkan sebuah momen yang jauh lebih indah.

Dan foto itu menjadi buktinya.