2 Tahun Putus Sekolah, Aura Kini Kembali Belajar di Sekolah Rakyat Kabupaten Bone
BONEPAPER.COM — Dua tahun lalu, Andi Aura Ainun Mahya harus meninggalkan bangku sekolah. Kini, anak yang dikenal pintar dan berprestasi itu kembali mengenakan seragam dan memulai langkah baru sebagai siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bone.
Ada cerita panjang di balik kembalinya Aura ke sekolah.
Bukan karena ia tidak ingin belajar. Bukan pula karena ia kehilangan cita-cita.
Keterbatasan akses justru membuat langkahnya terhenti.
Aura merupakan anak yang dikenal memiliki prestasi ketika masih bersekolah. Ia bahkan menyimpan cita-cita untuk menjadi Kowad, prajurit perempuan TNI Angkatan Darat. Namun pada 2024, setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Aura tidak melanjutkan ke jenjang SMP.
Jarak sekolah yang cukup jauh menjadi salah satu kendala. Keluarganya tidak memiliki kendaraan yang memungkinkan untuk mengantar dan menjemputnya setiap hari. Akhirnya, bangku sekolah harus ia tinggalkan.
Dua Tahun Membantu Orang Tua
Selama tidak bersekolah, kehidupan Aura berubah. Ketika anak-anak seusianya mengikuti pelajaran di sekolah, Aura lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.
Ia membersihkan rumah dan membantu orang tua di dapur. Salah satunya membuat gorengan untuk dijual dan membantu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari keluarga.
Namun di balik aktivitas itu, keinginan Aura untuk kembali bersekolah tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu kesempatan.
Kisah Aura Terlihat dari Data PKH
Keluarga Aura sebelumnya merupakan penerima Program Keluarga Harapan (PKH) ketika dirinya masih bersekolah dasar.
Kondisi Aura kemudian diketahui saat pendamping PKH melakukan monitoring penyaluran bantuan. KKS milik orang tuanya tidak menerima penyaluran seperti sebelumnya.
Setelah dilakukan pengecekan, diketahui bahwa Aura tidak tercatat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP.
Dari persoalan tersebut, pendamping PKH kemudian mengetahui bahwa Aura telah berhenti sekolah.
Namun, bagi pendamping PKH, persoalan itu bukan sekadar tentang data bantuan sosial. Di balik data tersebut ada seorang anak yang pernah berprestasi dan masih memiliki cita-cita.
Nama Aura kemudian dicatat sebagai salah satu calon siswa yang akan diusulkan ketika terdapat kesempatan penjangkauan Sekolah Rakyat.
Namanya disimpan.
Harapannya pun ikut disimpan.
Setahun Menunggu, Kesempatan Itu Datang
Setahun kemudian, penjangkauan calon siswa Sekolah Rakyat akhirnya tiba di wilayah tersebut.
Pendamping PKH kembali mendatangi rumah Aura.
Satu hal yang ingin dipastikan: apakah Aura masih ingin bersekolah?
Jawabannya adalah iya.
Meski teman-teman sebayanya sudah jauh lebih dulu melangkah dan sebagian telah duduk di kelas III SMP, Aura tetap memilih untuk kembali belajar.
Untuk memberikan gambaran tentang kehidupan di Sekolah Rakyat, pendamping PKH memperlihatkan video berbagai aktivitas siswa.
Mulai dari kegiatan pagi, proses belajar, hingga fasilitas dan pelayanan yang tersedia bagi siswa Sekolah Rakyat.
Apa yang mereka lihat kemudian mengubah suasana di rumah itu. Air Mata Melihat Harapan Kembali Orang tua dan tetangga yang menyaksikan video tersebut ikut tersentuh.
Air mata menetes.
Bukan semata karena melihat fasilitas sekolah, tetapi karena mereka kembali melihat sesuatu yang selama dua tahun sempat hilang dari kehidupan Aura: harapan.
Harapan bahwa anak mereka bisa kembali belajar.
Harapan bahwa cita-cita yang sempat tertunda masih memiliki jalan.
Dan harapan bahwa keterbatasan ekonomi serta jarak tidak harus menjadi akhir perjalanan pendidikan seorang anak.
Kini, Aura telah diterima sebagai siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bone. Ia kembali ke dunia pendidikan setelah dua tahun terhenti.
Buku dan seragam sekolah kembali menjadi bagian dari kesehariannya.
Teman-teman sebayanya mungkin sudah lebih dulu melangkah.
Tetapi Aura tidak memilih untuk melihat ke belakang.
Ia memilih memulai kembali.
Dari Dapur, Kembali Mengejar Cita-Cita
Dua tahun lalu, hari-hari Aura banyak dihabiskan dengan membantu orang tua membuat gorengan dan mengerjakan pekerjaan rumah.
Kini, ia kembali memiliki ruang untuk belajar, tumbuh dan mengejar cita-cita.
Cita-cita menjadi Kowad yang pernah ia simpan sejak kecil kembali mendapatkan tempat untuk diperjuangkan.
Kisah Aura menunjukkan bahwa seorang anak yang terhenti sekolah belum tentu kehilangan masa depan.
Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang menemukan, mendampingi, dan membuka jalan menuju kesempatan.
Bagi Aura, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat kembali belajar.
Ini adalah awal baru.
Dua tahun terhenti, mimpi Aura kembali dimulai.
Dan dari Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bone, langkah kecil itu kembali diarahkan menuju cita-cita yang lebih besar.